21 April 2011 Genap 36 tahun sudah umur saya, tak terasa sudah 36 enam tahun saya di beri kenikmatan oleh allah yang maha besar.
Yang saya harapkan di umur ke 36 enam ini semoga Allah masih memberi kesehatan dan kesuksesan untuk saya, dan de beri umur panjang, semua orang mengharapkan sehat, sukses, bahagia dan umur panjang.
kalaupun saya masih di beri umur panjang saya akan pergunakan sebaik munkin untuk anak2ku dan istri2ku ( itrinya brp mas khotib?? ) yang tercinta.
Padahal di dalam islam tidak dibenarkan merayakan ulang tahun, yang di rayakan.
Perayaan ulang tahun kita atau suatu organisasi tertentu tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Karena itu bila dilakukan, tidak bernilai ibadahh.
Cukup banyak para ulama tidak menyetujui perayaan ulang tahun yang di adakan tiap tahunnya. Tentu mereka datang dengan dalil dan hujjah yang kuat sekali. Di antara alasan penolakan mereka terhadap perayaan ulang tahun antara lain:
I. Ulang tahun bila sampai menjadi keharusan dirayakan dianggap sebuah bid’ah. Sebab Rasulullah S AW belum pernah memerintahkannya Ummatnya, bahkan meski sekedar mengisyaratkannya pun tidak pernah sama sekali. Sehingga bila seorang muslim sampai merasah bahwa perayaan hari ulang tahun itu sebagai sebuah kewajiban, maka dia dalam kategori pembuat bid’ah.
2. Ulang tahun adalah produk non muslim
Selain itu, kita tahu persis bahwa perayaan ulang tahun yang kita rayakan itu diimpor begitu saja dari barat yang nota benenya bukan muslim. Sedangkan sebagai muslim, sebenarnya kita punya kedudukan yang jauh lebih tinggi. Bukan pada tempatnya sebagai bangsa muslim, malah menganut non muslim dalam masalah tata kehidupan kita.
Seolah kehidup dan kebiasaan orang nonj muslim itu mau tidak mau harus dikerjakan oleh kita yang muslim ini. Kalau sampai demikian, sebenarnya jiwa kita ini sudah terjajah tanpa kita sadarinya. Buktinya, life style mereka sampai mendarah daging di otak pikiran kita, sampai-sanmpai banyak di antara kita mereka kurang srek kalau pada hari ulangnya, tahun anaknya tidak merayakannya. Meski hanya sekedar dengan ucapan selamat ulang tahun.
3. Apakah Manfaat dari Merayakan Ulang Tahun?
Selain itu perlu juga kita mrenungkan sebagai muslim, apakah tujuan dan manfaat sebenarnya bisa kita dapat dari perayaannya Adakah nilai-nilai positif di dalamnya? Ataukah sekedar meneruskan sebuah tradisi yang tidak ada landasannya? Apakah ada di antara tujuan yang ingin dicapai itu sesuatu yang penting dalam hidup ini? Atau sekedar penghamburan uang kita.
Pertanya an berikut,adakah sesuatu yang menambah iman kita , ilmu atau amalan? Atau menambah manfaat baik pribad i, sosial atau lainnya? Pertanyaan berikutnya dan ini akan menjadi sangat penting bagi kita, adakah dalam pelaksanaan acara ulang tahun seperti itu maksiat dan dosa yang dilanggar?
terkahir namun tetap penting, bila ternyata semua jawaban di atas positif, dan acara seperti itu menjadi tradisi, apakah tidak akan menimbulkan salah paham pada generasi berikut seolah-olah acara seperti ini ‘harus’ dilakukan? Hal ini seperti yang terjadi pada upacara peringat hari besar Islam baik itu kelahiran, isra` mi`raj dan sebagainya.
Jangan sampai di hari kemudian, lahir generasi yang menganggap perayaan ulang tahun adalah ‘sesuatu’ yang harus terlaksanalakn. Bila memang demikian, bukankah kita telah kehilangan makna dari muslim?
Kalau menimbang-timbang pernyataan di atas, ada baiknya kita yang sudah terlanjur merayakan ulang tahun buat anak atau bahkan untuk diri kita sendiri melakukan evaluasi besaar.
Sebaliknya, mungkin ada baiknya pemikiran yang disampaikan oleh Dr. Yusuf Al-Qradawi tentang ulang tahun untuk anak. Misalnya, pada saat anak itu berusia 7 tahun, tidak ada salahnya kita ajak dia untuk menyampaikan pesan2 dalam acara khusus tentang keadaannya yang kini menginjak usia 7 tahun. Di mana Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada para orang tua untuk menyuruh anaknya sholat di usia itu.
Bolehlah kita buat acara khusus untuk penyampaian pesan ini, agar terasa ada kesan tertentu di dalam diri si anak. Bahwa sejak hari itu, dirinya telah mendapatkan sebuah tugas resmi, yaitu diperintahkan untuk sholat.
Nanti di usia anak 10 tahun, hal yang sama boleh dilakukannya lagi, yaitu sebagaimana perintah Rasulullah SAW untuk menambahkan atau menguatkan lagi perintah sholat. Kali ini dengan ancaman pukulan bila masih saja malas melakukan shalat. Bolehlah di lakukan suatu acara khusus di mana inti acaranya menetapkan bahwa si anak hari ini sudah berusia 10 tahunnya, di mana Rasulullah SAW membolehkan orang tua memukul anaknya bila tidak mau shalat.
Kira-kira usia 15 tahunan lebih kurangnya, ketika anak pertama kali baligh, boleh juga diadakan acara lagi. Kali ini orang tua menegaskan bahwa anaknya sudah termasuk mukallaf, sehingga semua hitungan amalnya baik dan buruk sejak hari itu akan mulai dicatat oleh allah. Bolehlah pada hari itu orang tua membuat acara khusus yang intinya menyampaikan pesan ini.
jangan tiap tahun bikin pesta undang teman-teman, lalu tiup lilin, potong kue, bernyanyi-nyanyi, memberi kado dapat utang ( hehehehee). Pola seperti inilah sama sekali tidak diajarkan di dalam agama islam kita ,dan cenderung tidak ada manfaatnya sama sekali, bahkan kalau mau jujur saja, justru merupakan cerminan dari sebuah mentalitas bangsa yang terjajah yang rela menganut pada tradisi bangsa lain.
Bukankah agama Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari padanya Lalu mengapa kita bangsa Islam/orang muslim ini harus menganutr pada tradisi bangsa lain yang jauh lebih rendah seklai? jawabannya yang paling jujur adalah…istafti qalbak….
Mintalah fawa kepada hati nuranimu…sendiri
hihi…. ini mau ulang tahun apa mau menceramai orang lain
yang penting dengan di tambah nya umur kita semoga di pergunakan dengan beribadah pada Allah.
2 Comments