Buku Membongkar Gurita Cikeas Laris di pasaran, sampai sampai ada toko buku yang menjual buku Membongkar Gurita Cikeas habis dengan kira dua jam, malah di pasaran buku tsb. hilang tidak ada pasaran kalaupun ada harus pesan dulu.

Setelah saya membaca dan mendengar wawancara di Tv saya punya kesimpulan bahwa buku itu tidak semua benar, karna apa..??  sang penulis ternyata dia mengumpulkan data dari internet atau dari Mbah Google.com dan sebagian dari analisah sendiri, harus di buktikan dengan bukti yang kuat.

dan munkin juga ada benarnya dengan analisa penulis, yang bisa di jadikan petunjuk bagi KPK untuk menulusuri kebenarannya.

Dulu ada Cicak Vs Buaya dan sekarang ada cumi-cumi melawan Vs Gurita seperti yang saya kutip dari detik.com di bawah ini.

Jakarta - Kisah ‘perseteruan’ yang diwakili oleh nama-nama hewan masih terus berlanjut. Setelah cicak versus buaya menjadi bahan pemberitaan di berbagai media selama beberapa bulan, kini muncul Cumi-cumi versus Gurita terus meramaikan jagad pemberitaan Nusantara.

Gurita dilambangkan sebagai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan segala yayasan yang berada di sekitarnya, seperti ditulis dalam buku kontroversial karangan George Junus AditJondro ‘Membongkar Gurita Cikeas’. Sementara cumi-cumi adalah representasi dari sang penulis buku itu sendiri, George Junus Aditjondro.

“Orang mengatakan cumi-cumi Pekalongan versus gurita. Saya kan orang pekalongan, suka cumi-cumi. Jadi orang bilang saya seperti cumi-cumi,” kata George dalam sebuah acara diskusi di salah satu stasiun TV swasta, Selasa (29/12/2009) malam.

Cuami-cumi, dalam dunia nyata adalah salah satu mahluk hidup yang tumbuh di
laut. Rasanya yang kenyal dan guruh, membuat hewan ini menjadi favorit untuk
disantap. Sementara gurita lebih identik dengan seekor hewan raksasa yang
ditakuti. Jika tangan-tangannya mencengkeram, lawan akan terjepit dan akhirnya menyerah kalah.

Pertempuran antara cumi-cumi dan gurita kian sengit saja. Para gurita yang dituduh dalam buku tersebut, satu persatu mulai membela diri. Beberapa nama yang dicatut, seperti LKBN Antara, Yayasan Puri Cikeas, Harian Jurnal Nasional telah membantah terlibat dalam dugaan persekongkolan ‘bisnis Cikeas’.

Lewat berbagai media dan rilis yang mereka kirimkan, tuduhan demi tuduhan pun ditampik. Dibalas dengan permintaan melakukan revisi, atau disomasi jika George bersikukuh dengan tulisannya tersebut.

George sendiri telah bersedia untuk merevisi buku bersampul gambar gurita bermahkota tersebut. Meski demikian, George juga siap menghadapi tuntutan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan. “Saya siap hadapi,” kata George kepada detikcom saat ditanya kemungkinan adanya gugatan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan.

Pihak Istana Presiden sendiri tidak akan meminta agar buku tersebut ditarik dari peredaran. Istana juga merasa belum perlu melakukan upaya hukum atas tuduhan pencemaran nama baik terhadap Presiden SBY. Tapi sebaliknya, pihak-pihak yang merasa dirugikan akan membuat semacam buku putih untuk mebantah segala tuduhan yang tercantum di buku terbitan Galang Press, Yogyakarta ini.

Rencana penerbitan buku putih tersebut disambut baik oleh pengamat politi dari Universitas Indonesia Arbi Sanit. Menurutnya, rencana itu merupakan langkah yang paling demokratis. Tapi dengan syarat, dalam buku putih tersebut harus dijelaskan secara gamblang dari mana saja sumber-sumber dana Partai Demokrat dalam Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2009 lalu.

Namun Arbi Sanit sendiri meragukan validitas dari isi buku tersebut. Kebanyakan, menurut Arbi, buku ‘Membongkar Gurita Cikeas’, memang kurang otentik. Belum ada fakta-fakta otentik dan masih berupa indikasi-indikasi yang masih perlu diperdebatkan kebenarannya.

“Baru berdasarkan indikasi-indikasi. Jadi kalau berdasarkan indikator secara ilmu sosial sah. Tapi tidak dipercaya benar. Kesahihannya masih kurang,” papar Arbi.

Nah, untuk masalah ini, George mendapat pembelaan dari Koordinator Indonesia
Corruption Watch (ICW), Danang Widoyoko. Danang, salah satu tokoh yang memberi kata pengantar dalam buku itu, menganggap George tak perlu membuktikan konten dalam buku karangannya tersebut.

“Buku george adalah buku sosiologis. Bukan dakwaan jaksa. Jadi bukan kapasitas George Aditjondro untuk membuktikan data-data atau bukti-bukti. Ini adalah tugas jaksa dan KPK,” kata Danang dalam sebuah diskusi di salah satu stasiun TV swasta.

Memang, buku George terkesan tidak disiapkan secara matang. Kebanyakan berisi tulisan-tulisan yang telah dirilis oleh berbagai media. Jadi terkesan buku tersebut merupakan rangkuman dari beberapa tulisan yang sebelumnya telah dipublikasikan. Tapi untuk seorang George, yang memang terkenal vokal sejak dalam masa Soeharto, bukan tanpa alasan dia mengarang buku ini. Sehingga, seharusnya sudah tidak diragukan lagi validitasnya serta bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Satu hal yang perlu diacungi jempol dari George, dia berani masuk penjara demi untuk menjaga kerahasiaan nara sumber yang dia wawancarai. “Saya rela di penjara demi untuk mempertahankan identitas nara sumber saya,” kata mantan wartawan Tempo ini.

Pernyataan George ini terkait permintaan pihak LKBN Antara untuk menyebutkan
siapa nara sumber dari pihak orang dalam Antara yang mengatakan Rp 40 miliar
dana PSO Antara masuk ke Bravo Media Center (BMC), event organizer tim kampanye SBY dalam Pemilu 2009.

Ibarat nasi sudah menjadi bubur, tinta George Aditjondro telah meracuni penikmat buku tanah air. Meski langka di pasaran, keinginan untuk memiliki buku tipis tersebut semakin tidak terbendung. Bahkan, versi bajakannya pun sudah beredar. (anw/mok)

mudah mudahan yang benar di katakan benar dan yang salah di katakan salah ami..n